JALAN SUNYI  YANG SEDANG MENUJU SESEORANG
5 mins read

JALAN SUNYI YANG SEDANG MENUJU SESEORANG

Ada masa-masa dalam hidup ketika langkah terasa begitu panjang, sementara tujuan masih tampak jauh di kejauhan. Hari-hari berjalan sebagaimana biasanya, dipenuhi rutinitas, tanggung jawab, dan berbagai kesibukan yang datang silih berganti. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang kurang. Tidak ada yang perlu dikeluhkan. Namun di dalam hati, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Perasaan bahwa perjalanan ini belum benar-benar lengkap. Seolah aku sedang berjalan di sebuah jalan panjang yang belum memperlihatkan ujungnya. Jalan itu tidak ramai. Tidak pula menakutkan. Ia hanya sunyi. Dan dalam kesunyian itulah aku belajar banyak hal tentang diriku sendiri.

Kesunyian sering kali dianggap sebagai sesuatu yang menyedihkan. Padahal tidak selalu demikian. Ada kesunyian yang justru mengajarkan manusia untuk mengenal dirinya lebih dalam. Kesunyian yang membuat seseorang berdamai dengan luka-lukanya. Kesunyian yang mengajarkan bahwa tidak semua kekosongan harus segera diisi. Pada masa itu, aku hidup berdampingan dengan kesunyian seperti seorang sahabat lama. Aku belajar menikmati secangkir kopi tanpa harus ditemani percakapan. Aku belajar menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam tanpa menunggu pesan dari siapa pun. Aku belajar pulang ke rumah dan menyimpan seluruh cerita hari itu untuk diriku sendiri. Dan tanpa kusadari, kesunyian sedang mendidikku menjadi seseorang yang lebih siap untuk menghargai kehadiran orang lain.

Sebagai seorang dosen, aku sering bertemu banyak orang di ruang kelas. Sebagai trainer, aku berbicara di hadapan peserta yang jumlahnya tidak sedikit. Sebagai penulis dan penerbit, aku berinteraksi dengan berbagai macam karakter dan kisah kehidupan. Bahkan sebagai seorang web developer, aku membangun ruang-ruang digital yang dapat diakses oleh banyak orang. Ironisnya, semakin banyak manusia yang kutemui, semakin aku memahami bahwa keramaian tidak selalu mampu mengusir sepi. Ada ruang-ruang tertentu dalam hati yang tidak dapat diisi oleh banyaknya pertemuan. Ruang itu hanya bisa dipenuhi oleh seseorang yang tepat.

Aku tidak mengetahui bahwa pada waktu yang sama, di tempat yang berbeda, engkau juga sedang menjalani perjalananmu sendiri. Mungkin engkau sedang berdiri di depan kelas, menyampaikan pelajaran kepada murid-muridmu. Mungkin engkau juga sedang menyimpan mimpi-mimpi yang belum sempat diceritakan kepada siapa pun. Mungkin engkau juga sedang melewati hari-hari yang tidak selalu mudah. Dan mungkin, tanpa kita sadari, langkah kita sedang bergerak menuju satu titik yang sama. Kita tidak saling mengenal. Kita tidak saling mengetahui keberadaan masing-masing. Namun  Allah yang mengatur seluruh perjalanan itu mengetahui dengan sangat baik ke mana arah setiap langkah akan berakhir.

Kini ketika aku mengenang kembali masa-masa tersebut, aku sering tersenyum sendiri. Betapa banyak hal yang dahulu terasa biasa ternyata memiliki makna yang baru setelah aku mengenalmu. Jalan-jalan yang pernah kulewati sendirian. Malam-malam yang kuhabiskan untuk bekerja hingga larut. Doa-doa yang kupanjatkan tanpa mengetahui kepada siapa mereka sedang menuju. Semua itu ternyata bukan sekadar potongan-potongan peristiwa yang berdiri sendiri. Mereka adalah bagian dari perjalanan panjang yang sedang mengantarkanku kepadamu. Seperti sungai yang terus mengalir tanpa mengetahui bentuk lautan yang sedang menunggunya.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika kita menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar berjalan tanpa arah. Bahkan ketika kita merasa tersesat,  Allah tetap mengetahui jalan pulang yang sedang Dia siapkan. Bahkan ketika kita merasa sendirian, Dia sedang mempertemukan berbagai kejadian yang suatu hari akan kita pahami sebagai bagian dari rencana-Nya. Aku percaya, pada masa itu aku memang belum memahami alasan di balik banyak hal yang terjadi dalam hidupku. Namun sekarang aku melihat semuanya dengan lebih jernih. Jalan yang dulu terasa sunyi ternyata bukan jalan yang kosong. Ia adalah jalan yang sedang menuju seseorang.

Dan seseorang itu adalah dirimu, Nyaaa. Perempuan yang namanya belum kukenal saat itu, tetapi kehadirannya telah disiapkan oleh  Allah di ujung perjalanan panjangku. Perempuan yang kelak membuat seluruh kesunyian memiliki arti. Perempuan yang mengubah jalan yang dulu terasa panjang menjadi perjalanan yang layak dikenang. Karena setelah mengenalmu, aku memahami satu hal yang sederhana namun begitu indah: kadang-kadang  Allah membiarkan seseorang berjalan cukup lama sendirian bukan karena ingin membuatnya kesepian, melainkan agar ketika ia akhirnya bertemu dengan orang yang tepat, ia mampu mengenali betapa berharganya pertemuan itu.

Hari ini, ketika aku menulis halaman ini sambil membayangkan wajahmu, aku tidak lagi melihat masa lalu sebagai rangkaian hari-hari yang sunyi. Aku melihatnya sebagai jalan yang penuh petunjuk. Jalan yang perlahan membawaku dari satu musim ke musim berikutnya. Jalan yang mengajarkanku kesabaran, ketekunan, dan kepercayaan kepada waktu. Dan di ujung jalan itu, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah berhasil kutemukan di tempat lain: seseorang yang membuat langkahku tidak lagi terasa sendiri. Seseorang yang membuat setiap perjalanan memiliki tujuan yang lebih indah. Seseorang yang membuatku mengerti bahwa seluruh jalan sunyi yang pernah kulalui ternyata selama ini sedang menuju kepadamu.

 

Baca Juga:

PERPUSTAKAAN YANGBELUM MENYIMPAN NAMAMU

DOA YANG MASIH BERJALAN TANPA ALAMAT

MUSIM YANG MENUNGGU POHONNYA BERBUNGA

JALAN SUNYI YANG SEDANG MENUJU SESEORANG

TAKDIR YANG MENGETUK DARI ARAH TAK TERDUGA

LANGIT YANG DIAM-DIAM MENYIAPKAN PERTEMUAN

SEBELUM NAMAMU MENEMUKAN JALANNYA KEPADAKU

ADA SESEORANG YANG SEDANG DISIMPAN WAKTU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *