MUSIM YANG MENUNGGU POHONNYA BERBUNGA
4 mins read

MUSIM YANG MENUNGGU POHONNYA BERBUNGA

Ada hal-hal di dunia ini yang tidak dapat dipercepat oleh keinginan. Sebesar apa pun harapan yang kita miliki, tetap ada waktu-waktu tertentu yang harus dihormati sebagai bagian dari proses. Benih tidak akan menjadi pohon hanya karena kita menginginkannya. Pohon tidak akan berbuah hanya karena kita merasa sudah cukup lama menunggu. Bahkan bunga yang paling indah sekalipun membutuhkan musimnya sendiri untuk mekar. Barangkali karena itulah  Allah menciptakan waktu, agar manusia belajar bahwa tidak semua hal baik lahir dari tergesa-gesa. Ada keindahan yang hanya dapat ditemukan oleh mereka yang bersedia menunggu dengan sabar.

Dalam perjalanan hidupku, aku sering berpikir bahwa menunggu adalah sesuatu yang melelahkan. Menunggu jawaban dari sebuah usaha yang diperjuangkan. Menunggu hasil dari doa-doa yang terus dipanjatkan. Menunggu mimpi yang perlahan sedang dibangun menjadi kenyataan. Sebagai seseorang yang terbiasa bekerja dengan target, jadwal, dan pencapaian, aku terbiasa mengukur segala sesuatu dengan waktu. Aku ingin melihat hasil dari apa yang kuusahakan. Aku ingin mengetahui ke mana arah dari setiap langkah yang kuambil. Namun hidup ternyata tidak selalu berjalan mengikuti hitungan yang kita buat sendiri.

Ada masa ketika aku melihat banyak orang menemukan kebahagiaannya lebih dahulu. Sebagian menemukan pasangan hidup yang menemani perjalanan mereka. Sebagian lagi telah membangun rumah tangga yang tampak hangat dan penuh cerita. Pada saat-saat seperti itu, aku bertanya-tanya dalam diam. Apakah aku sedang terlambat? Apakah musim bahagiaku masih terlalu jauh? Pertanyaan itu tidak selalu muncul, tetapi sesekali datang seperti angin yang menyentuh dedaunan. Ia tidak merobohkan keyakinan, namun cukup untuk membuat hati merenung lebih lama dari biasanya.

Kini aku menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan itu lahir karena aku melihat kehidupan sebagai perlombaan. Padahal  Allah tidak pernah meminta manusia untuk saling mendahului. Setiap orang memiliki musimnya masing-masing. Setiap kehidupan memiliki jadwalnya sendiri. Ada pohon yang berbunga lebih awal, ada yang berbunga lebih lambat. Namun bunga yang mekar pada waktunya sendiri tidak pernah menjadi kurang indah dibandingkan bunga yang lebih dahulu bermekaran. Yang membuatnya indah bukanlah cepat atau lambatnya, melainkan kesempurnaan waktu yang dipilihkan oleh Sang Pencipta.

Barangkali aku adalah pohon itu. Pohon yang pada suatu masa terlihat belum berbunga ketika pohon-pohon lain telah lebih dahulu menunjukkan keindahannya. Dari luar, orang mungkin melihat kesibukanku, pekerjaanku, pencapaianku, dan berbagai hal yang sedang kujalani. Namun hanya aku dan  Allah yang mengetahui bahwa ada satu bagian dalam hidupku yang masih menunggu musimnya tiba. Sebuah bagian yang belum lengkap. Sebuah ruang yang masih menantikan seseorang untuk mengisinya. Dan tanpa kusadari, musim itu sedang berjalan perlahan mendekat melalui langkah-langkahmu.

Kurnia, hari ini ketika aku menuliskan namamu di halaman ini, aku memahami bahwa selama ini  Allah tidak pernah membuatku terlambat. Dia hanya sedang mempersiapkan waktu yang tepat untuk mempertemukan kita. Ada banyak hal yang harus kupelajari sebelum mengenalmu. Ada banyak hal yang harus kaualami sebelum mengenalku. Kita sama-sama sedang bertumbuh di tempat yang berbeda, membawa pelajaran hidup yang berbeda, hingga akhirnya waktu mempertemukan kita pada titik yang sama. Seperti dua musim yang bertemu di satu cakrawala, lalu bersama-sama menghadirkan kehidupan yang baru.

Mungkin jika kita bertemu lebih awal, kita belum memahami arti kehilangan. Mungkin jika semuanya terjadi lebih cepat, kita belum mengerti betapa berharganya kesempatan kedua. Bahkan mungkin kita belum menjadi pribadi yang siap untuk saling menjaga. Karena itulah kini aku tidak lagi menyesali waktu yang pernah berlalu. Aku tidak lagi mempertanyakan mengapa  Allah membiarkan perjalanan ini berlangsung begitu panjang. Sebab semakin kupahami, semakin kusadari bahwa penantian bukanlah hukuman. Penantian adalah cara  Allah mempersiapkan sesuatu agar hadir dalam bentuk terbaiknya.

Dan seperti pohon yang akhirnya berbunga setelah musim yang panjang, aku melihat kehadiranmu sebagai jawaban dari penantian itu. Bukan karena engkau datang membawa kesempurnaan, melainkan karena kehadiranmu membuat seluruh perjalanan yang pernah kulewati terasa memiliki makna. Kini aku mengerti mengapa  Allah tidak terburu-buru menuliskan kisah kita. Sebab ada bunga-bunga yang memang harus menunggu musim terbaiknya untuk mekar. Dan ketika musim itu akhirnya datang, ia tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga rasa syukur yang jauh lebih dalam. Hari ini, ketika aku memandang masa depan dan menemukan dirimu di sana, aku tahu bahwa seluruh penantian itu tidak pernah sia-sia. Aku hanya sedang menjadi pohon yang menunggu waktu terbaik untuk berbunga, dan bunga itu ternyata bernama Kurnia.

 

Baca Juga:

PERPUSTAKAAN YANGBELUM MENYIMPAN NAMAMU

DOA YANG MASIH BERJALAN TANPA ALAMAT

MUSIM YANG MENUNGGU POHONNYA BERBUNGA

JALAN SUNYI YANG SEDANG MENUJU SESEORANG

TAKDIR YANG MENGETUK DARI ARAH TAK TERDUGA

LANGIT YANG DIAM-DIAM MENYIAPKAN PERTEMUAN

SEBELUM NAMAMU MENEMUKAN JALANNYA KEPADAKU

ADA SESEORANG YANG SEDANG DISIMPAN WAKTU

One thought on “MUSIM YANG MENUNGGU POHONNYA BERBUNGA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *