DOA YANG MASIH BERJALAN TANPA ALAMAT
5 mins read

DOA YANG MASIH BERJALAN TANPA ALAMAT

Jauh sebelum aku mengenalmu, ada banyak doa yang telah kutitipkan kepada langit. Doa-doa itu tidak selalu terucap dengan kata-kata yang panjang. Kadang ia hanya hadir sebagai desir harapan di sela kesibukan yang menghabiskan hari-hariku. Kadang ia muncul di penghujung malam ketika seluruh pekerjaan telah selesai dan dunia mulai sunyi. Dalam momen-momen seperti itulah aku sering berbicara kepada  Allah tentang masa depan yang belum dapat kulihat bentuknya. Tentang seseorang yang belum kukenal wajahnya. Tentang seorang perempuan yang keberadaannya masih menjadi rahasia-Nya. Aku tidak pernah menyebut nama, sebab memang belum ada nama yang bisa kusebut. Namun anehnya, doa-doa itu terus berjalan, seolah mengetahui ke mana ia harus menuju.

Sebagai manusia, tentu aku pernah memiliki gambaran tentang sosok yang kelak akan menjadi pendamping hidupku. Aku berharap ia adalah seseorang yang mencintai ilmu, menghormati nilai-nilai kehidupan, dan memahami bahwa cinta bukan sekadar tentang perasaan, melainkan tentang kesediaan untuk bertumbuh bersama. Aku berharap ia adalah seseorang yang mampu melihat diriku apa adanya, bukan hanya ketika berada di puncak keberhasilan, tetapi juga ketika sedang berjuang menghadapi berbagai keterbatasan. Harapan-harapan itu kusimpan dalam hati, lalu kubiarkan mengalir menjadi doa. Bukan doa yang mendesak  Allah untuk segera mengabulkan, melainkan doa yang belajar percaya bahwa setiap hal baik memiliki waktunya sendiri.

Ada masa ketika aku merasa doa-doa itu berjalan terlalu jauh tanpa membawa jawaban. Aku melihat banyak orang menemukan pasangan hidupnya, membangun rumah tangga, dan memulai lembaran baru dalam kehidupannya. Sementara aku masih berjalan di jalanku sendiri. Pada saat-saat tertentu, muncul pertanyaan kecil yang diam-diam mengetuk hati. Apakah doa-doa itu benar-benar sedang menuju seseorang? Apakah di luar sana memang ada seorang perempuan yang juga sedang dipersiapkan untukku? Namun setiap kali keraguan itu datang, selalu ada ketenangan yang mengikutinya. Seolah  Allah sedang berbisik bahwa tidak semua jawaban harus datang secepat yang kita inginkan.

Mungkin karena itulah aku memilih untuk terus melangkah. Aku mengisi hari-hariku dengan belajar, mengajar, menulis, membangun usaha, dan mengejar berbagai cita-cita yang telah lama kutanamkan. Aku percaya bahwa menunggu bukan berarti berhenti bergerak. Menunggu adalah tetap berjalan sambil mempercayai arah yang telah ditetapkan  Allah. Maka ketika doa-doa itu belum juga menemukan alamatnya, aku tetap membiarkannya terbang. Sebab aku tahu, langit tidak pernah salah mengantarkan pesan dari seorang hamba kepada  Allahnya.

Kini ketika aku menoleh ke belakang, aku mulai memahami bahwa selama ini doa-doa itu sebenarnya tidak pernah tersesat. Ia hanya sedang menempuh perjalanan yang panjang. Sebab ada begitu banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Ada kedewasaan yang harus dibangun. Ada luka yang harus disembuhkan. Ada pelajaran yang harus dipahami. Dan mungkin, pada saat yang sama, ada seorang perempuan di tempat lain yang juga sedang dipersiapkan oleh  Allah dengan caranya sendiri. Perempuan yang kelak akan menjadi tujuan dari seluruh doa yang selama ini belum memiliki nama.

Perempuan itu adalah dirimu, Nyaaa. Meskipun saat itu aku belum mengenalmu, ternyata namamulah yang selama ini sedang dituju oleh doa-doaku. Ketika aku meminta seseorang yang mencintai pendidikan,  Allah mempertemukanku dengan seorang guru. Ketika aku meminta seseorang yang mampu menjadi teman bertumbuh,  Allah mempertemukanku dengan perempuan yang mengajarkanku arti kesabaran. Ketika aku meminta seseorang yang dapat menjadi rumah bagi segala lelah dan perjuanganku,  Allah perlahan mengarahkan langkahku menuju dirimu. Jawaban itu tidak datang dengan cara yang instan, tetapi justru karena itulah ia terasa begitu berharga.

Ada satu hal yang sering kusadari tentang  Allah. Dia tidak selalu segera mengabulkan apa yang kita minta. Kadang Dia memilih untuk menunda, bukan karena ingin mengecewakan, melainkan karena ingin memberikan sesuatu yang lebih tepat. Seperti seorang guru yang tidak langsung memberikan jawaban kepada muridnya, tetapi membiarkannya belajar hingga memahami makna dari setiap proses. Kini aku melihat perjalanan itu dengan lebih jernih. Jika saja aku bertemu denganmu pada waktu yang berbeda, mungkin aku belum cukup dewasa untuk menghargai kehadiranmu. Jika saja segala sesuatu terjadi lebih cepat, mungkin aku tidak akan memahami betapa berharganya kesempatan kedua yang diberikan  Allah kepada kita.

Karena itulah hari ini aku tidak lagi memandang doa-doa yang pernah berjalan tanpa alamat itu sebagai penantian yang sia-sia. Aku melihatnya sebagai jejak-jejak cinta  Allah yang sedang membimbingku menuju seseorang yang tepat. Seseorang yang namanya akhirnya kutemukan setelah perjalanan yang panjang. Dan ketika aku kini menyebut namamu dalam setiap doa, ada perasaan yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Sebab doa-doa itu tidak lagi berjalan tanpa alamat. Ia telah menemukan tujuannya. Ia telah menemukan rumahnya. Dan rumah itu adalah hatimu.

 

Baca Juga:

PERPUSTAKAAN YANGBELUM MENYIMPAN NAMAMU

DOA YANG MASIH BERJALAN TANPA ALAMAT

MUSIM YANG MENUNGGU POHONNYA BERBUNGA

JALAN SUNYI YANG SEDANG MENUJU SESEORANG

TAKDIR YANG MENGETUK DARI ARAH TAK TERDUGA

LANGIT YANG DIAM-DIAM MENYIAPKAN PERTEMUAN

SEBELUM NAMAMU MENEMUKAN JALANNYA KEPADAKU

ADA SESEORANG YANG SEDANG DISIMPAN WAKTU

2 thoughts on “DOA YANG MASIH BERJALAN TANPA ALAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *