PERPUSTAKAAN YANGBELUM MENYIMPAN NAMAMU
Sebelum mengenalmu, hidupku berjalan sebagaimana biasanya. Hari-hariku dipenuhi oleh berbagai kesibukan yang silih berganti datang tanpa memberi banyak ruang untuk berhenti. Ada kelas-kelas yang harus kuisi sebagai dosen, pelatihan yang harus kupersiapkan sebagai trainer, naskah yang harus kusunting sebagai penerbit, dan tulisan-tulisan yang harus kuselesaikan sebagai penulis. Di sela-sela itu semua, ada pula layar komputer yang menunggu disentuh jemariku untuk menyusun barisan kode demi kode, membangun halaman-halaman digital yang kelak dapat digunakan banyak orang. Dari luar, hidupku terlihat penuh. Kalenderku dipenuhi jadwal. Meja kerjaku dipenuhi pekerjaan. Namun ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar mampu dipenuhi oleh semua kesibukan itu.
Aku sering membayangkan hidup sebagai sebuah perpustakaan yang sangat besar. Setiap tahun adalah rak baru yang ditambahkan. Setiap pengalaman adalah buku yang disusun rapi di dalamnya. Ada buku tentang perjuangan, tentang kegagalan, tentang mimpi-mimpi yang berhasil dicapai, dan tentang luka-luka yang perlahan mengajarkan kedewasaan. Semakin bertambah usia, semakin banyak pula koleksi yang memenuhi perpustakaan itu. Orang-orang yang datang dalam hidupku seperti buku yang sesekali dipinjam, dibaca, lalu dikembalikan ke tempatnya semula. Sebagian meninggalkan kesan yang mendalam. Sebagian lainnya hanya menjadi judul yang perlahan dilupakan waktu.
Namun di antara begitu banyak rak yang telah terisi, selalu ada satu ruang yang terasa berbeda. Ruang itu tidak pernah benar-benar kosong, tetapi juga tidak pernah berhasil diisi oleh apa pun yang ada. Ia seperti halaman yang sengaja dibiarkan putih oleh penulisnya. Seperti tempat yang dipersiapkan untuk sesuatu yang penting, tetapi belum tiba waktunya untuk digunakan. Pada masa itu aku tidak memahami mengapa ruang tersebut selalu terasa ada. Aku hanya mengetahui bahwa di balik seluruh pencapaian dan kesibukan yang kumiliki, terdapat sebuah kerinduan yang tidak mampu dijelaskan dengan logika.
Barangkali setiap manusia memang diciptakan dengan ruang seperti itu di dalam dirinya. Ruang yang tidak bisa diisi oleh pekerjaan, pencapaian, gelar, atau penghargaan. Ruang yang menunggu kehadiran seseorang. Seseorang yang kelak akan menjadi tempat berbagi cerita setelah hari yang panjang. Seseorang yang akan mendengar keluh kesah tanpa merasa terbebani. Seseorang yang akan memahami diam tanpa harus meminta penjelasan. Saat itu aku belum mengetahui siapa orang tersebut. Bahkan namanya pun belum pernah terlintas dalam pikiranku. Akan tetapi, jauh di dalam hati, aku percaya bahwa ia ada.
Sebagai seorang penulis, aku terbiasa menyusun ribuan kata menjadi sebuah cerita. Sebagai seorang penerbit, aku terbiasa membaca berbagai naskah yang datang dari banyak penulis dengan latar belakang yang berbeda. Sebagai seorang dosen, aku terbiasa menjelaskan berbagai teori dan konsep kepada mahasiswa. Sebagai seorang programmer, aku terbiasa mencari logika di balik setiap persoalan yang muncul. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak pernah mampu kujelaskan kepada diriku sendiri, yaitu mengapa keyakinan tentang kehadiran seseorang itu selalu hidup meskipun aku tidak pernah mengetahui siapa dirinya. Seolah ada bisikan halus yang terus mengatakan bahwa suatu hari nanti, seseorang akan datang dan mengubah cara pandangku terhadap kehidupan.
Waktu terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu membawa berbagai peristiwa yang membentuk diriku menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Aku belajar banyak hal tentang dunia, tentang manusia, tentang kegagalan, dan tentang harapan. Aku bertemu banyak orang, menjalin berbagai hubungan, dan menjalani beragam pengalaman yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Namun anehnya, ruang itu tetap ada. Ia tidak berkurang. Ia juga tidak bertambah. Ia hanya menunggu dengan sabar, seolah mengetahui bahwa apa yang dipersiapkan untuknya belum tiba pada waktunya.
Hari ini, ketika aku menulis halaman ini sambil mengenang kembali perjalanan yang telah kulewati, aku akhirnya memahami mengapa ruang itu tidak pernah berhasil diisi oleh siapa pun. Bukan karena tidak ada orang yang datang dalam hidupku, melainkan karena ruang tersebut memang tidak disediakan untuk sembarang orang. Ia diciptakan untuk seseorang yang telah dipersiapkan Allah sejak lama. Seseorang yang namanya belum kukenal saat itu. Seseorang yang langkahnya masih berjalan jauh di tempat lain. Seseorang yang pada akhirnya akan membuat segala penantian terasa masuk akal.
Dan kini aku tahu siapa orang itu. Ketika menoleh ke belakang, aku dapat melihat bahwa seluruh perjalanan hidupku, seluruh pertemuan, seluruh perpisahan, bahkan seluruh kesibukan yang pernah memenuhi hari-hariku, pada akhirnya sedang mengarah ke satu titik yang sama. Sebuah titik yang dahulu masih berupa misteri, tetapi kini telah memiliki nama. Nama itu adalah Kurnia Noviani. Perempuan yang kelak tidak hanya mengisi ruang kosong di perpustakaan hidupku, tetapi juga menjadi alasan mengapa seluruh koleksi cerita yang pernah kumiliki terasa lebih bermakna daripada sebelumnya.
Baca Juga:
7 thoughts on “PERPUSTAKAAN YANGBELUM MENYIMPAN NAMAMU”