KEPADA PEREMPUAN YANG KELAK AKAN KUSEBUT RUMAH
Nyaaa,
Jika suatu hari nanti seseorang bertanya kapan kisah ini benar-benar dimulai, mungkin aku tidak akan mampu menunjukkan tanggal yang pasti. Sebab cinta tidak selalu lahir pada hari pertama dua orang saling mengenal. Kadang ia tumbuh perlahan, seperti fajar yang tidak pernah tergesa-gesa mengusir malam. Ia datang sedikit demi sedikit, hingga pada suatu saat kita menyadari bahwa terang itu telah memenuhi seluruh langit.
Maka izinkan aku memulai buku ini bukan dengan cerita tentang pertemuan kita, melainkan dengan rasa syukur yang tak pernah selesai kuucapkan kepada Allah. Sebab di antara begitu luasnya dunia, di antara begitu banyak manusia yang berjalan membawa takdirnya masing-masing, Dia mempertemukan langkahku dengan langkahmu.
Aku tidak pernah tahu seperti apa wajah perempuan yang akan menjadi pendamping hidupku. Aku hanya mengenalnya melalui doa-doa yang kupanjatkan bertahun-tahun lamanya. Dalam sujud yang panjang, aku meminta seseorang yang mampu menjadi teman berjalan ketika hidup terasa berat, seseorang yang tetap tinggal ketika musim tidak selalu ramah, seseorang yang dapat kuajak menua tanpa kehilangan arah pulang.
Dan tanpa kusadari, Allah sedang menuliskan namamu.
Mungkin saat aku sibuk menyusun mimpi-mimpiku sebagai seorang penulis, engkau sedang mengajarkan huruf-huruf pertama kepada murid-muridmu. Mungkin ketika aku tenggelam dalam tumpukan naskah, kelas perkuliahan, pelatihan, dan barisan kode yang memenuhi layar komputer, engkau sedang berdiri di depan kelas, menanamkan harapan kepada anak-anak yang kelak akan tumbuh menjadi cahaya bagi masa depannya sendiri.
Kita hidup dalam dunia yang berbeda, tetapi ternyata sedang berjalan menuju tujuan yang sama. Seperti dua sungai yang mengalir dari hulu yang berbeda, namun diam-diam sedang diarahkan menuju satu lautan yang sama.
Ada masa ketika aku mengira cerita kita telah selesai bahkan sebelum benar-benar dimulai. Ada hari-hari ketika namamu hanya menjadi gema yang sesekali muncul di sudut pikiranku. Ada waktu ketika aku mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk berjalan berdampingan. Namun kini aku mengerti, beberapa kisah tidak hilang. Ia hanya menunggu waktu terbaik untuk dilanjutkan.
Dan waktu terbaik itu akhirnya datang.
Hari demi hari yang membawaku semakin dekat kepadamu membuatku memahami satu hal yang sederhana: rumah ternyata bukan hanya bangunan yang memiliki dinding dan atap. Rumah adalah seseorang. Rumah adalah tempat di mana hati berhenti mengembara. Rumah adalah nama yang membuat segala kegelisahan menemukan tenangnya.
Bagiku, rumah itu perlahan menjelma menjadi dirimu.
Karena setiap kali berbicara denganmu, ada ketenangan yang tidak kutemukan di tempat lain. Setiap kali mendengar namamu disebut, ada harapan yang diam-diam tumbuh dalam dadaku. Dan setiap kali membayangkan masa depan, entah mengapa wajahmu selalu hadir di sana, berdiri berdampingan denganku.
Kurnia,
Buku ini bukan tentang kesempurnaan kisah kita. Buku ini justru tentang bagaimana Allah mempertemukan dua manusia yang sama-sama memiliki luka, keraguan, ketakutan, dan keterbatasan. Tentang bagaimana Dia mengajarkan bahwa cinta bukanlah menemukan seseorang yang sempurna, melainkan menemukan seseorang yang tetap ingin kita pilih setiap hari.
Maka melalui halaman-halaman yang akan kau baca nanti, izinkan aku mengabadikan perjalanan ini. Perjalanan yang mungkin tampak biasa bagi banyak orang, namun bagiku adalah salah satu keajaiban terbesar yang pernah diberikan Allah.
Sebab kelak, ketika rambut kita mulai memutih dan usia perlahan mengajarkan arti rapuh, aku ingin kita membuka kembali buku ini dan tersenyum.
Bahwa pernah ada seorang lelaki yang jatuh cinta begitu dalam kepada seorang perempuan bernama Kurnia Noviani.
Dan lelaki itu masih orang yang sama hingga hari ini.
Masih mencintaimu.
Masih memilihmu.
Masih bersyukur karena Allah mempertemukan kita.
Dan masih meyakini bahwa dari sekian banyak tempat yang ada di dunia, rumah yang paling ingin kutuju selalu adalah dirimu.
Baca Juga: